Kadang aku ingin berbaring manja di dada kekasihku. Dalam hangat peluknya, aku meresapi indahnya menghitung malam bersama. Kuhafal betul desah nafas dan irama suaranya yang kadang menuntun romansa fantasiku. Di balik cintanya yang putih, kuingin dia menitip doa dan berbagi harapan denganku. Bercanda, berbagi tawa, dan melantunkan bait-bait cinta Lukisan Perempuan milik Sitok Srengenge, lembut di telingaku :
LUKISAN PEREMPUAN Kulukis perempuanku, bersayap kupu-kupu terbang mengitari kuncup kanak-kanakku yang selalu luruh jadi humus masa lalu Rambut jerami putih-tempat istirah angin yang letih tubuh lampai terlentang sepasrah padang, lelaki menggaruk membajak menggali, mengharap tumbuh benih kasih. Kupajang lukisan itu di kamarku seruang gua tanpa gaung dan lelawa Bintang-bintang pun menjauh, mungkin jatuh, dipagut laut dan gelap membekap dengan telapak tangan kasap tak kasat mata Aku tersedu di rahim perempuanku, sebagai janin takut bising dan dingin. Kusapukan warna emas pada paras, kudamba cinta dari cahaya matanya Kulit tanah liat, menahan geliat hasrat Bukit-bukit cadas, sepasang payudara yang mengeras Lembah semak belukar, kawah gairah dari birahi liar Aku bersimpuh di bawah teduh perempuanku, kulepas derita di ambang gerbang yang terbuka di telapak kakinya, dari sana kutempuh langkah demikian berliku: melukis hidupku! Serupa tiang utama rumah, di mana penat ditambat perempuanku menjulang serapuh kenangan menyangga rusuk-rusuk rinduku yang selalu luruh, bila hujan menjamahku... (Medio 2006; Sitok Srengenge-Komunitas Utan Kayu)
Indah ya? Aku ingin sekali lelakiku menjamahku tidak hanya secara fisik, tapi ada kedalaman hati dan perasaan yang bermain di sana. Betapa indahnya cinta, saat semua iramanya dimainkan dengan nada yang tepat...
Dedicated to Aditia Patria W. You`re my song.
With Love
Nariswari
| |
|