Entah apa yang mendorong saya dan orang tua saya pagi itu melontarkan niat yang agak luar biasa (mengingat kami ini segerombolan bertubuh montok yang pemalas) untuk berjogging ke Senayan. Maka hitung-hitung tamasya , kami pagi-pagi sekali pukul 05.00 WIB sudah bersiap diri memakai training olah raga dan sepatu senam. Bahkan mama memakai sepatu senam baru yang belum pernah beliau pakai sejak 6 bulan yang lalu! Dengan semangat membara untuk membakar lemak, papa pun mengeluarkan mobil dan kami langsung berangkat ke Senayan. Tancap gigi empat menuju Senayan!
Kami tiba di Senayan pukul 06.00 WIB. Sepanjang Stadion Senayan , kami sangat kesulitan mencari parkiran . Setelah kurang lebih seperempat jam kami menahan diri mendengar umpatan kotor papa, maka akhirnya kami dapat parkiran juga, walau agak jauh dari area jogging.
Seperti selayaknya atlet professional, dengan dada membusung dan kepala mendongak, kami berlari-lari kecil menuju area jogging di seputar stadion Senayan. Ternyata di sana sudah banyak yang berjogging. Mungkin mereka datang lebih awal dari kami. Tidak hanya itu. Masih sambil berlari kecil, kami melihat sekumpulan perguruan Wushu sedang berlatih menggunakan tongkat yang panjang. Biasa, dengan sumpah serapahnya yang sama, papa mengutuk anak kecil yang berlatih Wushu dengan tongkat, yang tongkatnya hampir mengenai kaki papa itu. “ Mau nge-jolok jambu kenapa mesti ke Senayan sih!! Bikin perkara aja. Bisa berabe kena mata!! Dasar babon!”
Tidak jauh dari situ, ada perkumpulan jantung sehat. Kami bertiga mendekat, karena sepertinya mama tertarik dengan gerakan-gerakan senamnya yang tidak terlalu menghentak. Setelah kami mendekat, raut muka mama agak kaget. Lalu cepat-cepat mengajak kami untuk berlalu. “Kenapa Ma?” Tanya saya. “Gue nggak mau gabung olah raga ama mereka. Enak aja. Emang gue udah nenek-nenek peyok keriput apa?!” Dan kamipun bergegas mengikuti larinya sambil mengurut dada.
Sepanjang mata memandang, banyak orang berolah raga dengan berbagai kemapuan mereka. Ada yang latihan karate, main basket, main sepeda, skate board, roller blade, aerobic, bahkan ada yang sangat niat membawa raket bulu tangkis beserta cock-nya dari rumah. Mungkin mereka tidak ada lahan asyik untuk main bulu tangkis di rumah. Well, maka disulaplah kini Senayan menjadi pelataran untuk berbagai cabang olah raga!
Tidak hanya itu ternyata. Ada banyak orang yang sedang duduk-duduk saja. Mereka sedang olah raga muka rupanya. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) bilang, olah raga muka itu lebih lazim disebut mengunyah, atau memamah biak. Ternyata selain kami yang bersemangat ke Senayan, banyak pedagang makanan dan minuman juga memiliki semangat yang sama. Bahkan ada dari mereka yang membuka lapaknya dari shubuh.
Bagi pecinta jajan, di sinilah Anda bisa memanjakan lidah. Mulai dari makanan ringan seperti bakpau, roti lapis, risolles, gorengan, batagor, somay, pempek, dan kue-kue basah. Ada juga makanan berat, seperti soto ayam, bakso, soto babat, ketupat sayur, bubur ayam Cirebon, sate ayam, nasi rames, nasi Padang, bahkan jika beruntung, Anda akan menemui makanan yang sudah agak langka ditemui, yaitu Laksa. Makanan berkuah kuning gurih dengan aroma yang khas.
Pertama papa yang tergoda untuk mencicipi bakso bening. Kami duduk di bangku kayu di dekat Gate Stadion ke-2, kebetulan pohon-pohon di sana masih agak rindang. Kami pun memesan bakso bening 3 mangkok. Tidak lama, bakso pun diantar. Kuah baksonya bening sekali, pakai taburan seledri, bawang goreng dan tongcai. Baksonya sendiri berukuran kecil, dan ada beberapa potong iga atau tulang sapi. Menggoda sekali nampaknya! Ternyata rasanya lumayan, dan tidak mengecewakan. Satu porsi dihargai Rp.5.000. Setelah selesai dengan appetizer yang nikmat itu, kami berjalan ( ingat…di awal cerita, saya bilang kami berlari-lari kecil kan? ) lagi.
Sepanjang mata memandang, kami melihat antrian agak ramai di sebuah tenda. Rasa penasaran menggelitik kami untuk mampir di tenda itu. Ternyata, bubur ayam Cirebon. Dengan pandangan agak memelas, papa memandang mama untuk diizinkan jajan kembali. Kami pun duduk agak berdempetan dengan orang yang lebih dulu makan di sana. Setelah sekian menunggu, pesanan kami pun datang, 3 mangkok bubur ayam, dan semangkok atributnya. Maksudnya atribut di sini adalah, sate usus, sate ati ampela , dan sate telur puyuh. Di suapan pertama, saya sudah mendapat jawaban mengapa orang rela berantri-antri ria di tenda bubur ini. Rasa buburnya gurih, lembut, dan harum beras. Toppingnya pun saya suka , yakni cakwe, kacang kedelai, ayam suwir, seledri, tongcai, bawang goreng. Seperti cerita sebelumnya, bubur ayam berikut satenya pun kandas tak bersisa. Semangkok bubur ayam dihargai Rp. 5.000 dan satu tusuk sate Rp.2.000.
Dengan keringat yang membasahi tubuh , tapi bukan karena berolah raga, kami pun melanjutkan jalan kami. Kali ini kami sepertinya mulai sadar, bahwa langkah kaki kami sudah memelan, tidak seperti awal masuk ke stadion tadi.
Dari jauh mama melihat di bawah pohon, ada seorang nenek-nenek dengan bakul , berjongkok membakar sesuatu. Kami mendekat, dan ternyata yang dibakar adalah sate kikil.Kontan mama yang senang sekali dengan kikil langsung mengajak kami duduk lesehan di dekat si nenek itu, dan langsung memesan 30 tusuk dan minta dibakar agak garing. Sate kikil sendiri, awalnya adalah makanan asli Jawa yang dimana penyajiannya kikil sapi dipotong kotak-kotak 2 cm x 2 cm, lalu dimasak 3/ 4 matang dengan bumbu bacem, lalu ditusuk oleh bilah bamboo, dan kemudian dibakar dengan arang batok kelapa. Selagi dibakar, sesekali sate-sate yang dibakar itu diolesi minyak sayur supaya bertambah gurih dan tidak lengket di besi panggangan. Sate yang matang, disajikan dengan bumbu sambal kacang di pinggir piring untuk cocolan. Rasanya luar biasa, ada manisnya yang berasal dari bumbu bacem, gurih sekali, dan diperkuat dengan aroma bakaran tadi. Mantap sekali. Ditambah dengan pedas gurih bumbu kacang. Hmm…. Dengan harga Rp.1.500 per tusuk, kami sepertinya akan sangat merindukan makanan langka ini.
Setelah menyantap sate kikil yang nikmat, kami berniat untuk mencari minuman yang segar. Pilihan kami jatuh pada gerobak es susu kacang kedelai. Kami memesan 3 gelas. Rasanya nikmat sekali, manisnya pas, aroma kedelainya kuat sekali, dan kekentalannya terjaga. Tidak cemplang. Per gelasnya dihargai Rp.3.000.
Bukannya meningkatkan stamina, malah kami agak kenyang. Jalan kami menjadi gontai (ingat….di awal cerita saya, kami berlari kecil, lalu berjalan, dan sekarang gontai!).
Mama mengusulkan supaya pulang saja. Kami setuju. Kami berbalik. Pandangan papa tertumbuk pada tukang gorengan. Dibelinya combro, tahu isi, bakwan, risol, dan molen masing-masing 5 potong. Mama agak sengit melihat papa beli gorengan banyak sekali, dalih papa ,”Untuk bekal di mobil.” Kami pun terdiam . No comment.
Kini giliran saya yang agak ngawur. Dari kejauhan saya melihat ada penjual bakpao Yeong Heong , saya memesan 3 buah dengan isian daging ayam, kacang ijo dan daging sapi. Ukuran bakpao Yeong Heong ini agak di luar rata-rata, alias lebih besar. Teksturnya putih lembut, dan sangat wangi gurih. Panas-panas, bakpao-bakpao itu dimasukkan dalam kantong kertas, dan setelah membayar Rp.6.000 per bakpao, kami menuju ke mobil, dan pulang ke rumah.
Sepanjang jalan, saya berpikir, apa yang kami dapat sepanjang hari ini. Semangat kami yang menyala-nyala untuk membakar lemak, ternyata kembali gagal. Malahan, kami menambah kalori dan tumpukan lemak lagi. Apapun, saya sangat mensyukuri pagi ini, setidaknya 10 atau 20 tahun ke depan kedekatan saya dan orang tua seperti ini pasti akan sangat saya rindukan. Lagipula, mana kita tahu di masa-masa depan, pedagang-pedagang di emperan stadion Senayan itu sudah terkikis oleh zaman, bukan?
With Love,
Nariswari